“Antara Pena, Buku dan Aku”
Kala aku sedang rindu ingin
bercumbu dengan pena dan buku tulisku,
Kadang mereka Nampak
malu-malu menemuiku.
Sikap mereka membuatku
sedikit kebingungan hingga sulit kudefinisikan,
Bahkan sesekali aku merasa
jikalau mereka telah bosan bersamaku.
Sesekali melesat tanya dari
hati yang tengah terluka olehnya,
Akankah kalian menjadi sama
seperti mereka?
Yang pergi kala
keberuntungan memihaknya!!
Wahai sang pena,
Ketahuilah jikalau aku tak
akan mungkin mencampakkanmu,
Seperti mereka
mencampakkanku.
Kamulah sang penghiburku ditengah ngerinya berada dlm kesunyian malam hari,
tulusmu membantu jemariku menari mengikuti irama hati.
Wahai sang buku,
Sabarmu adalah kekuatanku
saat hati tengah berkelahi dengan fikiran.q.
Engkau dengan rela menerima
setiap kata ungkapan hati ini,
Pena, Buku dan Aku.
Sedang menertawai waktu yang telah pergi Bersama kenangan…
~S. Sang Penyair~
Kisah kita tumbuh, di dalam aroma tinta dan kertas,
Pena dan buku, teman sejati, pelita dalam malam gulita.
Walau keraguan datang, kita tetap berpadu,
Dalam irama kata, dalam pelukan waktu.
Pena, kau catat setiap getar hatiku,
Dalam coretan-coretan yang tulus,
Buku, kau simpan setiap kisah yang kuungkapkan,
Dalam halaman-halaman yang tak pernah berhenti berkisah.
Ketika senyum terukir, ketika tangis melebur,
Pena dan buku, kalian saksi setia,
Di balik kata-kata yang terpahat, ada hati yang mengalir,
Dalam aliran waktu yang tak pernah berhenti mengalir.
Mungkin ada saatnya tanya hadir dalam dada,
Namun ku yakinkan diri, kalian tak akan pergi begitu saja.
Pena, kau takan henti menari di atas kertas putih,
Buku, kau takan hilangkan jejak cerita yang telah tercipta.
Kita, tiga sekawan dalam perjalanan waktu,
Menciptakan makna, merangkai mimpi,
Pena, buku, dan aku, satu kesatuan yang tak terpisahkan,
Dalam liku-liku hidup, dalam riak-riak kenangan.
Kita tertawa, kita menangis, kita bersama dalam sajak,
Menciptakan kehidupan, dalam baris-baris kata.
Pena dan buku, kalian adalah sekutu setiaku,
Dalam perjalanan ini, takkan pernah berpisah.
--Penyair Online---
Kisah kita tumbuh, di dalam aroma tinta dan kertas,
Pena dan buku, teman sejati, pelita dalam malam gulita.
Walau keraguan datang, kita tetap berpadu,
Dalam irama kata, dalam pelukan waktu.
Pena, kau catat setiap getar hatiku,
Dalam coretan-coretan yang tulus,
Buku, kau simpan setiap kisah yang kuungkapkan,
Dalam halaman-halaman yang tak pernah berhenti berkisah.
Ketika senyum terukir, ketika tangis melebur,
Pena dan buku, kalian saksi setia,
Di balik kata-kata yang terpahat, ada hati yang mengalir,
Dalam aliran waktu yang tak pernah berhenti mengalir.
Mungkin ada saatnya tanya hadir dalam dada,
Namun ku yakinkan diri, kalian tak akan pergi begitu saja.
Pena, kau takan henti menari di atas kertas putih,
Buku, kau takan hilangkan jejak cerita yang telah tercipta.
Kita, tiga sekawan dalam perjalanan waktu,
Menciptakan makna, merangkai mimpi,
Pena, buku, dan aku, satu kesatuan yang tak terpisahkan,
Dalam liku-liku hidup, dalam riak-riak kenangan.
Kita tertawa, kita menangis, kita bersama dalam sajak,
Menciptakan kehidupan, dalam baris-baris kata.
Pena dan buku, kalian adalah sekutu setiaku,
Dalam perjalanan ini, takkan pernah berpisah.
---penyair online----

Posting Komentar untuk "Sajak"